Saturday, December 5, 2020

Miki Tikus Yang Nakal

 

Miki adalah tikus yang nakal. Setiap hari, ia selalu berbuat nakal dan dimarahi oleh mama nya. Miki suka sekali menjahili temannya. Terkadang, orang tua dari temannya memarahi mama Miki karena sikap Miki yang sangat nakal. Alhasil, miki akan diceramahi selama berjam-jam. Namun, semakin hari, Miki semakin sulit untuk diatur. Mama Miki pun berdoa kepada Yang Kuasa agar bisa menyadarkan anaknya.

Suatu pagi Miki berencana untuk pergi dari rumah. Ia kesal dengan mamanya yang selalu memarahinya. “Sudah, aku harus pergi dari rumah ini. Setiap hari aku terus-terusan dimarahi. Aku kan Cuma ingin bersenang-senang. Siapa suruh teman-teman lemah semua. Aku ingin pergi saja dari rumah” kata Miki dalam hatinya. Miki mulai mempersiapkan kepergiannya dengan mengambil baju-baju miliknya dari dalam lemari.

Sudah 2 minggu Miki pergi dari rumah. Mama miki yang khawatir mulai mencarinya. “Anakku, dimanakah kamu? Ibumu disini rindu padamu” tangis mama Miki setiap malam tiba. Ketika pagi datang, mama Miki mulai mencari lagi ke sekolah, taman bermain, dan kemanapun juga tempat bermain yang biasa dikunjungi Miki. Akan tetapi, Miki tidak kunjung ditemukan.

Sementara itu, ternyata Miki sudah berada di desa yang lain. Masih sama, Miki sangat suka menjahili orang lain. Semua anak desa itu selalu dijahili oleh Miki. Miki merasa bangga akan dirinya yang kuat dan mampu menguasai desa lain. Setiap hari kerjaannya hanya pergi ke taman dan menjahili anak-anak desa tersebut.

Suatu hari, Ada tikus dewasa yang menghampirinya dengan bertanya “apakah kamu yang bernama Miki?”. Miki yang heran pun menjawab “Ya benar saya Miki. Mengapa om mencari saya?”. Tikus itupun menjawab dengan nada sinis “Oh, jadi kamu yang suka memjahili anak saya? Asal kamu tahu, perlakuanmu itu membuat anak saya tidak ingin lagi bermain ke luar rumah. Setiap hari dia hanya mengurung diri di kamar dan tidak mau untuk keluar. Kamu haru bertanggungjawab Miki!”.  “Mengapa aku harus bertanggungjawab? Sudah jelas karena anak om yang lemah. Siapa suruh dia lemah? Kalau dia kuat pasti dia tidak akan berakhir seperti itu. Suruh saja dia berlatih, siapa tahu dia menjadi anak yang kuat.”

Melihat sikap Miki yang tidak mau mengakui kesalahannya, Tikus itupun mulai mencari rotan untuk menghukum Miki. Ia mengambil rotan dan bersiap untuk memukuli Miki. Dia berkata “dasar anak nakal. Sudah berbuat salah, bukannya kamu minta maaf, malah menyalahkan tikus lain. Jangan harap kamu lepas dari hukumanku!”.

Sang tikus pun mengayunkan rotan dengan ke arah Miki. Namun siapa menyangka, rotan tersebut tidak mengenai Miki. Rotan tersebut justru mengenai mama Miki. Miki pun kaget dengan kemunculan mamanya yang melindungi Dia. Ternyata, mama Miki telah mendengar kabar bahwa di desa sebelah ada anak nakal yang muncul lalu menjahili anak lainnya. Mama Miki yang curiga pun langsung bergegas ke desa sebelah. Dari kejauhan, mama Miki melihat miki yang hendak dipukuli olah tikus dewasa dan segera berlari ke arah Miki. Itulah sebabnya, mama Mikilah yang terkena pukulan rotan tersebut.

“Pak, maafkanlah anak saya, saya berjanji akan membawanya pulang dan mengajarinya untuk tidak berbuat demikian lagi” kata mama Miki memohon ampunan untuk anaknya. “tidak bisa begitu buk, anak ibuk sudah berlaku kasar, dia harus diajari.” Tikus itu membalas. Mama Miki pun berlutut dan mencium kaki tikus tersebut sembari meminta maaf “pak saya mohon, maafkanlah anak saya. Ini semua salah saya yang tidak mengajarkan anak saya bagaimana bertindak yang baik. Saya juga sedih melihat anak saya berbuat demikian dan saya akan terus berusaha untuk membimbingnya ke arah yang benar. Untuk itu, maafkanlah dia”.

Melihat mamanya berlutut, dan memohon ampun untuk dirinya, Miki pun menangis seketika. Saat itu perasaannya hancur. Teringat semua kenakalan yang ia perbuat dan menyusahkan mamanya. Ia menyesal sekali telah berbuat semua itu. Dengan air mata, Miki pun ikut berlutut dan meminta maaf sambil menangis. Karena tidak tega, tikus dewasa itu pun memafkan Miki dan pergi.

Miki berkata “Buk, maafkan Miki yang selalu menyakiti ibu. Bahkan Miki juga selalu tidak emndengarkan nasehat ibu. Miki anak yang sangat nakal. Miki minta maaf bu. Mulai sekarang Miki berjanji akan jadi anak yang baik dan patuh kepada orangtua.” Mama miki pun menjawab “annakku, seperti apapun kamu, ibu akan selalu menyayangi kamu. Anakku, mulai sekarang belajarlah yang giat dan jadilah anak yang baik, ibu hanya berharap itu dari padamu. Ibu sangat mencintaimu anakku’.” Keduanya pun menangis tersedu-sedu lalu pulang kembali ke rumah. Sejak saat itu, Miki pun berubah menjadi anak yang baik hari dan rajin bekerja.

Uus Si Pemalas

 

“Lulu, aku pergi dulu ya..” begitu kata Uus kepada lulu saat ia berpura-pura untuk lari saat pelajaran berlangsung.  Lulu pun menjawab: “ehhh mau pergi ke mana kamu Uus? Pasti mau bolos sekolah ya..”. “tolonglah Lulu, jangan bilang ke pak Guru ya..” kata Uus Sambil berlari keluar sekolah untuk bermain.

Ya begitulah kisah ini dimulai. Uus adalah ikan besar yang pemalas. Ia malas belajar dan suka bermain main di permukaan laut. Ketika pelajaran sulit dia selalu membolos kelas dan pergi tanpa menghiraukan sahabatnya Lulu, lumba-lumba manis yang sudah dianggapnya saudara sendiri.

“Ah, bosan sekali. Aku sudah keluar dari sekolah, tapi apa yang harus aku lakukan ya? Aha! Sebaiknya aku mengganggu ikan-ikan kecil di permukaan laut.” Kata Uus dalam hatinya. Uuspun segera menuju ke permukaan dan mulai menakuti ikan-ikan kecil. Tak disangka, tiba-tiba saja badai bergemuruh dan ombak pun mulai menerjang. Uus yang sedang berada di permukaan kaget melihat ombak yang sangat besar datang menampar pipinya. Pada saat dia membuka mulut sambil berteriak kesakitan, ternyata ada sesuatu masuk ke dalam mulutnya.

Badaipun reda.. “Syukurlah, ternyata aku masih hidup. Aku si pria tampan ini masih hidup. Pujilah Dia yang telah mengutus aku.” Suara seseorang yang girang. Uus bertanya-tanya darimanakah gerangan suara itu berasal.  “Ah, aku sangatlah bersyukur, selain diberikan wajah yang tampan ini, aku juga masih diselamatkan dalam kesusahanku oleh Tuhan. Walaupun sekarang aku berada dalam perut ikan besar ini, tapi aku percaya, Allahku akan menyelamatku. Allah sungguh menyadarkanku akan dosaku” kata orang tersebut. Uus akhirnya sadar bahwa suara itu berasal dari dalam perutnya. Uus kemudian memutuskan untuk mendengarkan apa yang orang itu katakan.

“sungguh aku telah berbuat kesalahan. Allah memintaku untuk pergi menyelamatkan orang-orang di Niniwe, namun aku justru lari dari tugas itu. Sekarang aku percaya bahwa aku tidak akan pernah bias lari dari Allahku. Bahkan disaatku kesusahan, Dia menjawab seruanku. Sungguh menyesal aku sudah lari dari perintahNya” kata orang tersebut dengan nada menyesal. “aku memang tampan…” lanjut Orang tersebut. Sebelum orang itu melanjutkan, uus sempat tertawa dalam hatinya “hahaha.. orang ini sungguh sangat percaya diri.. bahkan dia menyebut dirinya tampan sudah berulang-ulang kali..”. Orang itu berkata “ aku memang tampan, aku pintar dan aku sangat terkenal. Tapi apa gunanya itu, Aku tidak menjalankan tugas yang diberikan kepadaku”.

Tiga hari dan tiga malam lamanya, Uus mendengarkan orang ini terus berbicara mengenai Allahnya, tugasnya, juga tentang dirinya. Perlahan-lahan Uus pun sadar akan kesalahannya. Uus suka membolos, malas mengerjakan tugas dan sering bermalas-malasan. Uus sadar dan akhirnya bertekad memperbaiki kesalahannya. Tak lama setelah itu, orang tersebut keluar dari dalam tubuhnya dan terhempas ke daratan. Uus akhirnya menanyakan nama orang tersebut. Iapun menjawab “aku Yunus, seorang pria tampan “.

Uus pulang dan menceritakan seluruh cerita tentang orang tersebut, ya, Yunus si tampan, dan cerita itu pun tersebar di seluruh sekolahnya.

Lulu menghampiri Uus sambil berkata “ jadi Uus, apa yang akan kamu perbuat setelah ini?”.. Uus menjawab Lulu dengan berkata “ setelah mendengar kisah Si tampan Yunus, aku sadar kalau kita harus menjalankan tugas yang Kita miliki dengan sepenuh hati. Aku tak ingin bermalas-malasan lagi, aku ingin semangat dan berjuang untuk masa depanku. Sama seperti Yunus si tampan, aku mendengar kabar bahwa dia telah sampai di Niniwe dan membawa bangsa itu kembali kepada Tuhan. Aku pun sama, tidak akan lari dari tanggungjawabku, aku akan belajar dengan giat lulu”.

Begitulah awal dimulainya kisah tentang Uus ikan besar yang pintar dan gagah perkasa, sekaligus akhir dari cerita Uus si ikan besar pemalas.

Sunday, September 20, 2020

MENNENG DAN GAUN INDAH


          Pada suatu hari, hiduplah keluarga kecil yang sangat miskin yaitu Menneng dan ibunya. Mereka hidup di sebuah gubuk kecil di kampung Renden. Ayah Menneng meninggal saat ibunya masih mengandung dirinya. Ayahnya meninggal karena jatuh dan tertimpa pohon besar. Hal itulah yang membuat ibu Menneng harus berusaha untuk bisa memenuhi kebutuhan mereka.

          Menneng adalah anak yang sangat suka bermain, dia masih berumur 7 tahun yang beranjak 8 tahun. Dia sangat jarang membantu ibunya. Tapi ibunya tidak pernah memaksanya untuk membantunya bekerja karena fisik ibunya juga masih kuat untuk bekerja sendiri.

Pada suatu siang menjelang sore...

          “Menneng, umbara la mu olai tuh?” Teriakan ibu Menneng yang melihat Menneng berlari keluar rumah tanpa berpamitan terlebih dahulu. “Dasar anak kurang ajar, susahnya berpamitan kepada orang tua sebelum keluar bermain. Tunggu saja dia pulang, akan ku cubit dia.”

Beberapa menit kemudian...

          “Nah, akhirnya pulang juga kamu anak nakal. Tumben ya pulangnya cepat, apakah kamu tidak mendapat teman bermain di luar sana?” kata ibu Menneng yang sambil mencubit lengan tangannya.

          “Maaf bu, Menneng tidak akan mengulangi perbuatan Menneng lagi. Menneng akan belajar untuk berpamitan sebelum keluar dari rumah. Tadi Menneng buru-buru bu karena melihat pak Sengke yang pulang dari pasar.”

          Pak Sengke adalah orang tua dari teman Menneng. Dia suka ke pasar dan setelah pulang dari pasar dia pasti selalu membawa gaun baru untuk anaknya yaitu teman Menneng. Menneng sangat suka melihat gaun-gaun yang milik temannya. Dia akan berlari dengan kencang setiap kali melihat pak Sengke pulang dari pasar karena dia mau melihat gaun baru yang dimiliki temannya. Menneng hanya bisa memandangi gaun-gaun temannya, walaupun dia tidak pernah memilikinya setidaknya dia merasa sangat bahagia jika bisa melihatnya.

“Sudah! Diam! Pergi ke dapur dan makan ubi yang sudah ibu rebus. Awas ya kamu mengulangi hal itu.” Sahut ibunya yang masih terlihat kesal pada Menneng

          Dengan diam dan penuh rasa takut, akhirnya Menneng pergi ke dapur dan makan ubi rebus itu. Sambil makan “Tuhan, jika aku juga punya ayah apakah aku juga bisa memiliki gaun? Aku ingin sekali memiliki gaun tapi ibu tidak pernah membelikannya karena ibu mengatakan bahwa dia tidak memiliki uang.” Seruan hati Menneng

          “Kenapa kamu melamun nak? Mulai besok kamu tidak boleh ke rumah pak Sengke. Kamu harus ingat bahwa ibu tidak punya uang untuk membelikanmu benda seperti itu. Sa’barra’ ko sia dak mu tiro bang apa tu na ampui tau senga’. Setelah makan kamu bereskan meja itu, ibu mau mengambil kayu bakar dulu di hutan.” Kata ibu Menneng

          Sambil  membersihkan meja, Menneng menangis dan mengungkapkan semua isi hatinya. Dia ingin sekali memiliki satu gaun indah, tapi keinginannya itu harus dikubur dalam karena dia berpikir bahwa itu hanyalah mimpi belaka. Tetapi Menneng tidak pernah menyerah, walaupun dia tahu bahwa memiliki gaun adalah hal yang mustahil namun Menneng terus berdoa kepada Tuhan agar Tuhan memberikan Menneng mimpi memakai gaun di saat tidur malamnya. Setidaknya itu akan membuat Menneng merasa bahagia.

          Beberapa hari kemudian saat ibu Menneng bangun pagi, dia membuka pintu. Kemudian, saat dia hendak melangkah keluar dia kakinya teransung sebuah kotak yang berada tepat di bawahnya. Kotak itu berwarna pink yang terbuat dari kardus namun rasanya kotak itu habis terkena percikan air sehingga beberapa bagian warnanya mulai memudar. Ibu Menneng sangat kaget, tidak tinggal diam dia langsung mengambil kotak itu sambil berteriak, Hei!! Siapa pemilik kotak ini. Karena teriakan ibu Menneng yang sangat keras, Menneng yang masih tidur pun langsung terbangun. Menneng keluar dari kamar sambil mengusap matanya.          

          “Ibu, mengapa engkau berteriak-teriak di pagi hari, ada apa bu?”

“Minda ka’ apa te na patorro inde depan pintu banuanta’.

          Tanpa basa basi, Menneng langsung menghampiri ibunya dan berkata bahwa kotak itu adalah milik temannya yaitu anak pak Sengke. Setelah ibu Menneng mendengar hal itu, ibunya langsung menyuruh Menneng untuk mengembalikan kotak itu, namun saat Menneng hendak mengembalikannya, kotak itu terjatuh dan didapatinya sebuah surat lalu memberikan kepada ibunya untuk dibaca.

          Hai Menneng sahabatku, aku tahu kamu sangat suka salah satu gaunku, aku sangat ingin memberikan padamu. Namun... aku sangat takut pada ayahku, nanti dia memarahiku. Tapi aku janji, kalau aku punya uang sendiri aku pasti membelikannya gaun untukmu”

          Ya, benar itu adalah surat yang pernah ditulis oleh teman Menneng. Kemudian, pak Sengke’ ayah dari temannya itu membaca surat yang pernah ditulis anaknya. Akhirnya pak Sengke’ memenuhi keinginan anaknya untuk memberikan gaun itu kepada Menneng yang sudah dianggap sahabat oleh anaknya.

Beberapa menit setelah membaca surat itu...

          “Tidak! Tidak! Tidak” kata Menneng sambil menangis dengan sangat keras.

Oh... ternyata teman Menneng mengalami kecelakaan saat dirinya hendak pulang sekolah. Kecelakaan itu sangat parah hingga mengakibatkan dirinya meninggal dunia. Saat itu, ayahnya yaitu pak Sengke sangat sedih dan untuk menghilangkan kesedihannya, pak Sengke memilih untuk pindah Rumah. Ketika pak Sengke membereskan kamar anaknya, didapatinya surat yang ditulis anaknya dan akhirnya dia mengikuti setiap tulisan yang ada di surat anaknya. Salah satunya memberikan gaunnya anaknya kepada Menneng.

Tolong jaga gaun ini dari sahabat kamu  (Tulisan pak Sengke dalam kotak itu)


Perasaan bahagia dan sedih kini dirasakan oleh Menneng. Bahagia karena akhirnya bisa merasakan gaun indah di tubuhnya, namun dia juga sedih karena harus kehilangan temannya yang disayanginya.

TAMAT.

 




Umbara la mu olai tuh : Mau kemana kamu

Sa’barra’ ko sia dak mu tiro bang apa tu na ampui tau senga’ : kamu harus sabar dan jangan melihat apa yang orang lain punya

Minda ka’ apa te na patorro inde depan pintu banuanta : Entah ini milik siapa yang tertinggal di depan rumah kita

 

 

 

 


Sunday, August 30, 2020

ANTARA BULAN, BINTANG DAN MATAHARI



        Indahnya dunia malam menghiasi kegembiraan kala itu. 2 sahabat yang bernama Bulan dan Bintang bercakap-cakap tentang keindahan mereka.

        “Aku bahagia sekali karena cahayaku membuat banyak orang merasa bahagia ketika melihatku” kata sih Bulan.

        Tiap hari ketika mulai menjelang pagi, Matahari merasa sangat sedih. Dia mulai membenci dirinya sendiri karena dia merasa bahwa dirinya hanya bisa menyakiti manusia. Dia juga ingin bisa seperti Bulan dan Bintang. Cahayanya begitu indah dan membuat manusia bahagia ketika melihatnya.

        Bintang hanya tersenyum mendengar perkataan sih Bulan. Bintang merenung beberapa lama dan akhirnya membalas perkataan si Bulan. “Benar Bulan, banyak sekali orang yang bahagia melihatmu bercahaya di malam hari karena dirimu membuat dunia malam terlihat indah.”

      Bintang adalah sahabat yang sangat baik bagi Bulan. Apapun yang dikatakan Bulan, Bintang berusaha untuk tetap melihat sisi positif dari hal itu.

      “Bintang, cahayamu juga membuat dunia malam terlihat begitu indah. Kalian begitu banyak, bahkan tidak bisa terhitung. Tapi, lihatlah manusia-manusia itu, mereka berusaha untuk bisa menghitungmu tapi tetap saja mereka gagal. Hmm… intinya kita ini adalah favorit manusia.”

        Siang pun tiba, Bulan dan Bintang tidak terlihat karena cahaya mereka hanya berfungsi di malam hari. Tapi ada satu cahaya yang bersinar ketika Bulan dan Bintang tak dapat bersinar. Ya, benar dia adalah Matahari. Matahari bersinar jauh lebih terang daripada Bintang dan Bulan. Bahkan cahaya terasa panas saat menyentuh tubuh manusia.

        “Mengapa cahayaku seterang ini dan mengapa harus terasa panas jika cahayaku menyentuh kulit manusia?” Ujar Matahari dalam hatinya.”

        Dengan raut wajah yang sangat sedih matahari berkata dalam hatinya “Aku tidak tahan dengan ini, aku tidak ingin menjadi matahari, tidak ada yang ingin berteman denganku. Bulan dan Bintang pun tidak dapat berteman denganku karena aku tidak kelihatan saat malam hari”

        Ya…Benar, di malam hari Matahari tidak terlihat. Semakin hari, matahari merasa bahwa dirinya semakin tidak berarti dan hanya membuat sekitarnya menjadi rugi.

Malam pun tiba…

        “Heii Bintang kita bersinar lagi, aku sangat bahagia loh, karena semua orang mulai memandangku. Lihat manusia itu, dia menunjukku. Eh,eh! Lihat juga manusia itu, dia memotret diriku. Wah, aku merasa seperti artis saja” ujar Bulan.

        Mendengar perkataan Bulan, Bintang merasa ada yang berbeda dengan Bulan. Bintang merasa semakin hari, Bulan semakin membanggakan dirinya sendiri. Namun, karena Bintang terus berusaha berpikir positif maka Bintang berusaha untuk menanggapi perkataan Bulan dengan positif.

        “Iya Bulan, Sinarmu begitu indah sehingga mereka menyukaimu. Bersyukurlah senantiasa kepada sang pencipta karena telah menciptakanmu seperti itu.”

        Selama Bulan dan Bintang bercerita, sesungguhnya Matahari selalu mendengarkannya. Namun mereka tak dapat melihatnya karena dirinya tak kelihatan.

        “Aku benci diriku, aku tidak berguna, aku hanya menyakiti manusia. Aku tidak memiliki teman dan aku tidak indah.” Teriakan disertai tangisan Matahari. “Siapa itu” ujar Bintang.

      “HAHAHA aku rasa itu Matahari. Kasihan sekali Matahari, sekarang dia bersedih karena menyadari kehadirannya merugikan saja.” Sindiran Bulan yang berusaha berbicara keras agar Matahari mendengarnya

        “Bulan, kurang ajar sekali dirimu, sudah sekian lama aku berteman denganmu dan aku selalu berusaha memahami dirimu. Mengapa kamu mengatakan hal itu.” Bisikan tajam Bintang di telinga Bulan

        “Memang benar, Matahari hanya merugikan, dirinya tak berarti. Dia sangat berbeda dengan diriku” kata Bulan dalam hatinya.

Beberapa menit kemudian…

Bintang tak dapat lagi bertahan dengan sifat Bulan, akhirnya…

       “Kamu keterlaluan!!! Apa kamu sadar, cahayamu yang indah itu yang membuat manusia memfavoritkanmu berasal dari pantulan cahaya Matahari. Kamu pikir itu karena kehebatanmu?  Mengapa kamu begitu menyombongkannya? Sekarang lihat!!! Matahari bersedih dan dia semakin membenci dirinya sendiri.” Kata bintang saat memarahi bulan.

            Matahari semakin tidak percaya diri. Dia merasa tidak berguna bahkan merasa kehadirannya hanya membuat orang terluka. Karena semakin terpuruk, matahari memutuskan untuk mulai menutup dirinya. Dia memilih untuk perlahan-lahan menghilangkan sinarnya dan bersembunyi.

            Siang tak kunjung datang. Bintang dan bulan mulai bertanya-tanya dalam hati mereka. Ada apa gerangan sehingga matahari tak kunjung datang? Bulan pun bertanya kepada bintang “Bintang, bukankah ini sudah waktunya bagi matahari untuk keluar, mengapa dia tak kunjung muncul?”. “Aku juga tak mengerti. Jangan-jangan, ini karena perkataanmu kepadanya. Bulan! Sudah kukatakan sebelumnya, apa yang kamu bilang itu sudah keterlaluan! Lihat, matahari tak ingin lagi muncul.” Kata bintang.

         Sembari mereka berdebat, perlahan-lahan cahaya bulan mulai meredup. Bulan yang kaget berkata “ Bintang, bintang... ada apa ini? Mengapa cahayaku yang indah mulai menghilang... bintang tolonglah aku. Apa yang harus aku lakukan bintang? Tolong aku....”. bintang yang tak dapat berbuat banyak berkata  ”Bulan, cahayamu meredup pasti karena matahari yang juga mulai menghilangkan cahayanya perlahan-lahan. Sudah kukatakan kepadamu, cahaya yang kamu punya itu asalnya dari matahari. Lihat perbuatanmu, sekarang matahari mulai menutup diri dan hasilnya, cahayamu juga mulai meredup. Belum terlambat bagimu. Segeralah kamu minta maaf kepada matahari.”.

        “Matahari.....Matahari.... maafkan aku matahari.. Aku telah berkata kasar tentangmu. Sekarang aku sadar, cahayaku yang indah di malam hari, itu berasal dari kamu... aku minta maaf atas apa yang telah ku katakan kepadamu.. Tolong maafkan aku matahari dan kembalilah bersinar seperti sediakala” teriak bulan meminta maaf.

Matahari yang mendengar pun menjawab “Bulan kamu tidaklah salah. Memang aku tidak berguna. Aku hanya bisa menyakiti orang lain.”. “Tidak matahari. Aku yang salah. Bahkan jika cahayaku indah di malam hari, tetap saja itu bersumber dari kamu. Buat aku, kamu penyelamat hidupku. Kembalilah matahari. Aku membutuhkanmu” dengan penuh penyesalan bulan meminta maaf kepada matahari. Matahari yang tersentuh dengan ketulusan bulan mulai mendapatkan rasa percaya dirinya kembali. Dia bahagia karena cahayanya ternyata dibutuhkan oleh orang lain dan bahkan bulan pun membutuhkannya. Matahari mulai keluar dari persembunyiannya dan bercahaya kembali.

Miki Tikus Yang Nakal

  Miki adalah tikus yang nakal. Setiap hari, ia selalu berbuat nakal dan dimarahi oleh mama nya. Miki suka sekali menjahili temannya. Terkad...